Pernah suatu ketika, aisyah ngerengek-rengek sampe nangis hebat (nangis kok hebat) gara-gara ada tamu yang datang bawa oleh-oleh roti merk terkenal (roti yang bisa ngomong). saking terkenalnya, diawal-awal boomingnya,outlet mereka sukses bikin orang2 berdasi, tante2 berhighheels, anak-anak remaja generasi "lo-gw-end" sampe emak-emak istri pejabat rela antri kaya ngantri nukerin kupon sembako di pekan terakhir ramadhan.
Pernah juga suatu ketika juga (kalo temen saya yang guru bahasa Indonesia baca tulisan ini, bisa-bisa dituduh pencemaran bahasa Indonesia yang baik dan benar nih gara-gara pemborosan kata gini :D). hehe. balik lagi ke suatu ketika, selepas ngajar, tiba-tiba di meja udang nangkring seonggok makanan berlabel tidak saya kenal, karena datangnya jauuuuhh kadang dari jepang, singapura, malaysia, bahkan korea hasil bawaan teman-teman yang kebagian dinas disana. Alhamdulillah, jauh-jauh mereka pergi, tetep inget ama yang disini :)
Tapi.....saya jadi ragu-ragu nih...makan...gak...makan...gak....#mmmmm mmmm ??? ???
--------------------
Masalahnya aisyah bukan nangis karena tamunya, tapi gara-gara roti yang kekeuh dia minta, sayapun kekeuh gak mau ngasih. kejam? sadis? pelit? gak tuh, tapi karena tidak saya temukan label bulatan hijau bertulis Majelis Ulama Indonesia. Begitupun pada makanan yang dibawa dari luar negeri tadi. tidak ada logo atau keterangan dari negara setempatnya yang menyatakan jaminan halal untuk dikonsumsi orang-orang islam.
Islam, agama yang Allah ridhoi telah mengatur segala urusan sebagai panduan bagi manusia, termasuk soal makanan. Allah telah memisahkan antara yang baik bagi manusia dan yang buruk bagi manusia. Dia juga yang telah memisahkan antara yang halal dan yang diharamkan-Nya.
Makanan haram dalam Islam ada dua kategori :
1. Ada yang diharamkan karena dzatnya. Maksudnya asal dari makanan tersebut memang sudah haram, seperti: bangkai, darah, babi, anjing, khamar, dan selainnya.
2. Ada yang diharamkan karena suatu sebab yang tidak berhubungan dengan dzatnya. Maksudnya asal makanannya adalah halal, akan tetapi dia menjadi haram karena adanya sebab yang tidak berkaitan dengan makanan tersebut. Misalnya: makanan dari hasil mencuri, upah perzinahan, sesajen perdukunan, dan lain-lain.
“Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah: 168)
Nah tu kan, Allah menyerukan pada manusia, (jadi kalo ngerasa manusia, ya ikutin dong :) ) agar kita makan makanan yang halal lagi baik (halalan thoyyiban). kalo di Indonesia, halalnya ya bisa dilihat dari ada atau tidaknya logo MUI pada produk. sedangkan ke-thoyyib-annya bisa dilihat dari LP POM . Dua label itu yang pertama kali saya cari ketika akan mengkonsumsi produk. kalo gak ada ya mendingan cari produk lain yang ada.
Senenernya, roti yang bisa ngomong tadi pernah dapet sertifikat halal di tahun 2002, tapi entah kenapa alasannya, mereka tidak lagi memperpanjang sampai akhirnya MUI mencabutnya di tahun 2005 dan nekat tanpa logo MUI sampe sekarang. Sedangkan ya, yang namanya roti itu punya beberapa titik kritis yang banyak. emang sih gak ekstrim kaya roti isi daging babi atau roti abon guguk gitu...tapi banyak banget hal yang bisa menyebabkan kehalalan roti tersebut wajib dipertanyakan.
untuk pembahasan selengkapnya tentang titik kritis roti, saya pernah baca penjelasannya dari akun twitter @halalcorner silahkan klik disini.
Rasulullah pernah bersabda :
“Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas; dan di antara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halal haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barangsiapa hati-hati dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya.” (HR Muslim)
yang halal jelas....yang haram juga jelas...ditengahnya ada yang meragukan (syubhat). kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. kadang juga udah gak tau, ragu-ragu , ngeyel pula :D. itu baru roti...produk lain juga harus kita cermati bersama. jangan puas dengan jawaban pelayan restoran pas kita tanya :
"mba, ini halal gak ya"
kata pelayannya "oh halal, saya juga orang islam kok"
"kalo gitu, udah punya sertifikat halal dari MUI dong, kok gak dipamerin?"
kata pelayannya lagi " udah, tapi disimpen dikantor"
itu dialog beneran loh, waktu saya nanya ke salah satu gerai donat terkenal yang letaknya selalu bersebelahan sama roti yang bisa ngomong. Kalo emang bener ada serifikat halalnya ya dipamerin dong, itu tandanya menghormati pembeli muslim. karena gak puas, saya tanya langsung sama official twitter MUI @halalindonesia, benarlah dugaan saya, donat tersebut belum pernah meregistrasikan ke halalannya. sedangkan tetangganya, si roti ngomong itu sertifikat halalnya udah gak ada sejak tahun 2005. dan itu artinya dua produk itu syubhat dan harus ditinggalkan. itupun kalo mau menyelamatkan agama dan harga dirinya sendiri. (kata hadist yang tadi loh ya...)
Pernah baca pepatah you are what you eat kan? kamu adalah yang kamu makan. kalo makanan yang dimakan baik, maka insyaallah pengaruhnya besar terhadap akhlaqnya, hatinya, serta diterimanya amal-amal kita. Sedangkan makanan yang haram mempunyai dampak buruk bagi manusia, yang kalaulah dampak itu hanyalah tidak dikabulkannya do’apun niscaya hal itu merupakan kerugian yang besar. Karena seorang hamba tidak lepas dari kebutuhan berdo’a kepada Allah. sereeem banget, kalo Allah gak mau ngabulin doa-doa gara gara banyaknya yang haram dalam diri kita, mau minta ama siapa?? naudzubillah :'(
jadi, itulah alasan saya kekeuh gak ngasih aisyah, karena ia amanah saya, maka kewajiban saya mengajarkan ia memilah-milah yang halal dari yang haram dan syubhat. dengan ini juga, saya mengajak kawan-kawan sekalian, ayo kita bertindak tegas pada produsen makanan untuk meregistrasi produknya atau kita tinggalkan produk tersebut. mungkin aja sebagian produsen tersebut beranggapan " ah gada halal MUI juga tetep laku" nah itu yang harus kita desak.Bagaimana kalo kita tantang dengan : kalo memang halal, silahkan tunjukan! karena produk halal adalah tanggung jawab kita bersama.Meninggalkan yang haram dan syubhat juga kewajiban kita bersama!
Rasulullah telah bersabda: “Akan datang suatu zaman, sese-orang tidak akan peduli terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhari).
Pernah juga suatu ketika juga (kalo temen saya yang guru bahasa Indonesia baca tulisan ini, bisa-bisa dituduh pencemaran bahasa Indonesia yang baik dan benar nih gara-gara pemborosan kata gini :D). hehe. balik lagi ke suatu ketika, selepas ngajar, tiba-tiba di meja udang nangkring seonggok makanan berlabel tidak saya kenal, karena datangnya jauuuuhh kadang dari jepang, singapura, malaysia, bahkan korea hasil bawaan teman-teman yang kebagian dinas disana. Alhamdulillah, jauh-jauh mereka pergi, tetep inget ama yang disini :)
Tapi.....saya jadi ragu-ragu nih...makan...gak...makan...gak....#mmmmm mmmm ??? ???
--------------------
Masalahnya aisyah bukan nangis karena tamunya, tapi gara-gara roti yang kekeuh dia minta, sayapun kekeuh gak mau ngasih. kejam? sadis? pelit? gak tuh, tapi karena tidak saya temukan label bulatan hijau bertulis Majelis Ulama Indonesia. Begitupun pada makanan yang dibawa dari luar negeri tadi. tidak ada logo atau keterangan dari negara setempatnya yang menyatakan jaminan halal untuk dikonsumsi orang-orang islam.
Islam, agama yang Allah ridhoi telah mengatur segala urusan sebagai panduan bagi manusia, termasuk soal makanan. Allah telah memisahkan antara yang baik bagi manusia dan yang buruk bagi manusia. Dia juga yang telah memisahkan antara yang halal dan yang diharamkan-Nya.
Makanan haram dalam Islam ada dua kategori :
1. Ada yang diharamkan karena dzatnya. Maksudnya asal dari makanan tersebut memang sudah haram, seperti: bangkai, darah, babi, anjing, khamar, dan selainnya.
2. Ada yang diharamkan karena suatu sebab yang tidak berhubungan dengan dzatnya. Maksudnya asal makanannya adalah halal, akan tetapi dia menjadi haram karena adanya sebab yang tidak berkaitan dengan makanan tersebut. Misalnya: makanan dari hasil mencuri, upah perzinahan, sesajen perdukunan, dan lain-lain.
“Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah: 168)
Nah tu kan, Allah menyerukan pada manusia, (jadi kalo ngerasa manusia, ya ikutin dong :) ) agar kita makan makanan yang halal lagi baik (halalan thoyyiban). kalo di Indonesia, halalnya ya bisa dilihat dari ada atau tidaknya logo MUI pada produk. sedangkan ke-thoyyib-annya bisa dilihat dari LP POM . Dua label itu yang pertama kali saya cari ketika akan mengkonsumsi produk. kalo gak ada ya mendingan cari produk lain yang ada.
Senenernya, roti yang bisa ngomong tadi pernah dapet sertifikat halal di tahun 2002, tapi entah kenapa alasannya, mereka tidak lagi memperpanjang sampai akhirnya MUI mencabutnya di tahun 2005 dan nekat tanpa logo MUI sampe sekarang. Sedangkan ya, yang namanya roti itu punya beberapa titik kritis yang banyak. emang sih gak ekstrim kaya roti isi daging babi atau roti abon guguk gitu...tapi banyak banget hal yang bisa menyebabkan kehalalan roti tersebut wajib dipertanyakan.
untuk pembahasan selengkapnya tentang titik kritis roti, saya pernah baca penjelasannya dari akun twitter @halalcorner silahkan klik disini.
Rasulullah pernah bersabda :
“Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas; dan di antara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halal haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barangsiapa hati-hati dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya.” (HR Muslim)
yang halal jelas....yang haram juga jelas...ditengahnya ada yang meragukan (syubhat). kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. kadang juga udah gak tau, ragu-ragu , ngeyel pula :D. itu baru roti...produk lain juga harus kita cermati bersama. jangan puas dengan jawaban pelayan restoran pas kita tanya :
"mba, ini halal gak ya"
kata pelayannya "oh halal, saya juga orang islam kok"
"kalo gitu, udah punya sertifikat halal dari MUI dong, kok gak dipamerin?"
kata pelayannya lagi " udah, tapi disimpen dikantor"
itu dialog beneran loh, waktu saya nanya ke salah satu gerai donat terkenal yang letaknya selalu bersebelahan sama roti yang bisa ngomong. Kalo emang bener ada serifikat halalnya ya dipamerin dong, itu tandanya menghormati pembeli muslim. karena gak puas, saya tanya langsung sama official twitter MUI @halalindonesia, benarlah dugaan saya, donat tersebut belum pernah meregistrasikan ke halalannya. sedangkan tetangganya, si roti ngomong itu sertifikat halalnya udah gak ada sejak tahun 2005. dan itu artinya dua produk itu syubhat dan harus ditinggalkan. itupun kalo mau menyelamatkan agama dan harga dirinya sendiri. (kata hadist yang tadi loh ya...)
Pernah baca pepatah you are what you eat kan? kamu adalah yang kamu makan. kalo makanan yang dimakan baik, maka insyaallah pengaruhnya besar terhadap akhlaqnya, hatinya, serta diterimanya amal-amal kita. Sedangkan makanan yang haram mempunyai dampak buruk bagi manusia, yang kalaulah dampak itu hanyalah tidak dikabulkannya do’apun niscaya hal itu merupakan kerugian yang besar. Karena seorang hamba tidak lepas dari kebutuhan berdo’a kepada Allah. sereeem banget, kalo Allah gak mau ngabulin doa-doa gara gara banyaknya yang haram dalam diri kita, mau minta ama siapa?? naudzubillah :'(
jadi, itulah alasan saya kekeuh gak ngasih aisyah, karena ia amanah saya, maka kewajiban saya mengajarkan ia memilah-milah yang halal dari yang haram dan syubhat. dengan ini juga, saya mengajak kawan-kawan sekalian, ayo kita bertindak tegas pada produsen makanan untuk meregistrasi produknya atau kita tinggalkan produk tersebut. mungkin aja sebagian produsen tersebut beranggapan " ah gada halal MUI juga tetep laku" nah itu yang harus kita desak.Bagaimana kalo kita tantang dengan : kalo memang halal, silahkan tunjukan! karena produk halal adalah tanggung jawab kita bersama.Meninggalkan yang haram dan syubhat juga kewajiban kita bersama!
Rasulullah telah bersabda: “Akan datang suatu zaman, sese-orang tidak akan peduli terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhari).
-------


betul banget. tapi jaman sekarang ini langka halalnya mb, banyak orang yang tidak jujur juga. bilang halal ternyata tidak halal dan sebaliknya, tidak ada lebel halal ternyata bahan2nya halal.
BalasHapusmisal beli ayam di pasar, kita kan gak tau proses pemotongannya, sapi juga begitu. klo pengen bener2 halal ya beli ayam di potong sendiri :D
masih banyak kasus seperti itu. klo pengen aman sih semua nanem sendiri bune hehe
Ada satu lagi, umm, yang sering terjadi di dunia per-halal-an Indonesia ini. *Halah!
BalasHapusJadi gini, pandangan non muslim, haram itu = babi. Jadi ga mengandung babi = HALAL. Sering banget aku nanya sama temen yang abis makan di suatu tempat. "Halal ga?", "Halal lah, orang makanannya seafood, kok!" Padahal untuk memasak seafood ala chinesse, sering menggunakan mirin atau arak.
Terus nanya es krim, pasti dibilang HALAL. Padahal bisa jadi gelatin nya berasal dari bahan hewan yang tidak halal itu. Dan berbagai cerita lainnya..... Jadi butuh tenaga ekstra untuk mencari yang benar-benar halal.
salaam buk,nice sharing :) saya juga menjadikan logo halal sebagai penanda bagi anak2 tentang makanan (terutama produk pabrikan/kemasan)yang boleh dibelinya, monggo diintip di
BalasHapushttp://celotehniniemoenir.blogspot.com/2013/03/uang-saku-ketika-anak-ketagihan-jajan.html
di point 4 ya
iya, betul itu bunda-bunda, seharusnya sertifikat halal juga harus dimiliki pedagang makanan kecil. syaratnya ya proses sertifikasi harus murah dan mudah tapi ketat. dipedagang nasgor mie tek tek aja misalnya, atau tukang capcay chinesse food. tanpa babi, tapi angciu (arak masak) udah lazim sebagai penyedap. jd kita emang dituntut punya filter canggih dan berani buat nolak/ ninggalin yang syubhat apalagi haram.
BalasHapus